Showing posts with label lancong. Show all posts
Showing posts with label lancong. Show all posts
Sunday, August 18, 2013
"Mbiyen bapakmu uwis tekan endi-endi le. Bapakmu mbiyen seneng munggah gunung"
"Wis tau ngerasake suka dukane neng nduwur kono"
("Dulu bapakmu ini udah sampe kemana-mana. Bapakmu dulu suka mendaki gunung")
("Udah pernah ngerasain suka duka di atas gunung")
Seorang teman berseloroh tentang bagaimana dia akan dengan bangga bercerita pada anaknya kelak bahwa pada masa mudanya dia senang mendaki gunung.
"Nek aku, yo mung mingin-mingini wong liyo nek aku munggah. Kan aku moto-moto pemandangan sing apik tenan (Kalau aku, ya cuma bikin iri orang lain. Akukan motret pemandangan yang bagus banget)", kata temanku yang satunya.
Sunday, August 11, 2013
#Day 4
Liburan begini, biasanya pantai di seluruh Jogja pasti akan dipenuhi oleh para wisatawan dari berbagai penjuru. Bahkan pantai Pok Tunggal yang bisa dikatakan merupakan salah satu pantai baru di Jogja sudah ramai dikunjungi. Hal ini untukku pribadi agak menjengkelkan, sebab pantai-pantai yang tadinya bersih, biasanya akan dihiasi oleh sampah-sampah yang "tertinggal" berserakan.
"Kasus" terakhir ketika kami hendak berkemah beberapa bulan lalu di salah satu pantai Wonosari bernama Sadranan. Bayangan kami adalah berkemah disebuah pantai yang sepi. Namun bayangan itu hanya bayangan semata. Kami kemah dengan background panggung dangdut. Ketika esoknya kami pulang pun diwarnai kemacetan yang cukup membuat jengkel.
Tapi, yah aku gak punya hak untuk jengkel juga. Dengan semakin banyak pengunjung yang datang bisa meningkatkan perekonomian daerah sana. Dan mudah-mudahan juga para wisatawan bisa berbuat bijaksana untuk ikut merawat pantai tersebut, setidaknya tidak meninggalkan sampah. Amin.
Monday, April 16, 2012
"Posisi dimana? saya baru pulang" Anzi mengirimkan sebuah pesan singkat ke dalam inbox telepon genggamku.
"Aku di Nyabu mboton, Zi"
"Mboton? Tapi aku ketemu sebentar yah. Aku sama temanku, mau debat sekalian soalnya"
"Okelah, yang penting ketemu deh"
"Owalah, aku pakai baju sekolah, lho"
"Gakpapa"
"Ela..Aku gak bawa apa-apa buat mas lho"
"Gak penting, hahaha"
"Tunggu yah, mas"
"Oke"
Hari itu, Aku, Adnan dan Aji menyambangi kota yang keberadaannya tidak begitu jauh dari Jogja, Magelang. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di kota kecil ini. Kami bertiga berada di sana guna mengunjungi sebuah toko buku bekas di salah satu sudut kota itu. Suatu hari aku melihat blognya si Anzi, aku menemukan selembar postingan tentang toko buku tersebut. Waktu itu dia mendapatkan sebuah buku tua tentang Perang Dunia 1 yang masih digunakan siswa SMA pada tahun 1950-an.
Setelah berkeliling, bertanya dari satu orang ke orang yang lain, akhirnya saya bertanya pada seorang ibu.
"Bu, nuwun perso, kulo ajeng tanglet"
"Tanglet nopo, mas?"
"Nek, toko buku bekas sing jenenge Nyabu niku, pundi nggih?"
"Ohhh, cedak mriku lho mas. Niku mengkeh wonten SD. Lak sebelah e niku wonten toko buku bekas. Cilik mas"
"Hoooo, nggih bu. Matur suwun nggih, Bu"
Toko itu berada di sudut gang kecil di pinggir jalur utama menuju Semarang. Toko buku itu tidaklah sebesar sebuah rental komik yang sering ditemui di Jogja. Masuk ke dalam toko buku bekas itu, aku seperti di dalam sebuah museum. Bau kertas-kertas tua, sebuah lagu diputar dari sebuah radio tua di salah satu sudut ruangan.
"Niki pinten mbak?" tanya Aji, sambil menunjukan sebuah majalah fotografi tua.
"Itu 3000, mas"
"Sikat!"
Banyak buku-buku menarik yang bisa ditemui di dalam toko buku ini. Dari majalah-majalah tahun 60-an, kamus bahasa cina yang eksotik, rak berisi novel-novel silat, buku-buku karangan Mira W, Arswendo, Seno Gumira, Tagore, buku perjalanan Karl May dan masih banyak lagi. Harga buku-buku tersebut berkisar antara 5 ribu - 15 ribu. Langsung saja siang itu tiba-tiba kehilangan panasnya, kami semua tenggelam dalam nostalgia dan takjub dengan apa yang kami temukan. Ini baru sebagian saja buku-buku yang kami temukan. Toko buku ini memiliki cabang di tempat lain tapi masih dalam satu kota Magelang. Kata Anzi ruangannya lebih besar, dan mungkin koleksinya lebih banyak. Tapi sayang kami tidak bisa mengunjunginya kali ini, sebab aku harus kembali ke Jogja sekitar 2 jam lagi.
Di sela penelusuran kami, kemudian Anzi datang. Hari itu adalah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan bocah ajaib ini. Anzi Nadila, seorang gadis muda belia penuh bakat ini datang tidak dengan baju sekolahnya dana bersama dua orang teman sekolahnya.
"Disuruh ganti baju sama ibu tadi" katanya. Dan Anzi tidaklah "seramai" seperti yang kukenal di dunia maya. Dia terlihat seperti gadis belia biasanya, cukup pemalu. Maklum ini pertemuan kali pertama dengan kami.
Setelah berbincang kemudian foto bersama, kami berpisah. Anzi dan teman-temannya pergi latihan debat, kami bertiga melanjutkan perjalanan kami ke sebuah pasar loak di tengah kota kecil itu. Dengan harapan menemukan barang-barang menarik, kami terjang panas matahari yang siang itu benar-benar membara.
Dan apa yang kami dapatkan?
Dua buah album tua, lengkap dengan foto-foto portrait orang-orang yang tentunya tidak kami kenal. Dua album itu kami beli dengan harga 15ribu, ditambah beberapa lembar surat-surat kuno.
"Ayo nyetreet sebentar" kata Adnan, yang tanpa banyak kata kami pun menyetujuinya. Lalu berjalanlah kami menelusuri pedestrian di sekitar daerah pecinan sebelah alun-alun kota.
Panas semakin membakar, dahaga mengorek tenggorokan kami yang perlahan mengering. Kami berhenti pada sebuah gerobak, membeli segelas teh dan selembar istirahat. Merokok sambil memperhatikan suasan sekitar, merekamnya atau hanya mengacuhkannya. Sekitar pukul setengah satu kami memutuskan untuk kembali ke Jogjakarta. Namun, ketika kami hendak mengambil motor kami di parkiran dan melaju kembali ke Jogja, tiba-tiba seorang bapak bertanya pada saya.
"Mas, bawa kamera kayak gitu mau buat apa mas?" tanya bapak itu, sambil mengibas-kibaskan topinya berharap hawa panas berkurang.
"Cuma motret-motret aja kok, Pak" jawabku
"Saya punya banyak, mas"
"Masnya mau lihat tidak?"
"Apa pak?"
"Kamera kayak yang mas bawa itu"
"Kameranya di mana, pak?" tanyaku
"Ada di rumah saya"
"Kalau mas-masnya punya waktu, mari datang berkunjung ke rumah saya"
Tidak ada salahnya melihat-lihat pikirku. Maka kami pun pergi menuju rumah bapak yang mengaku bernama Joko itu.
"Saya dulu juga suka mainan kamera mas"
"Nah, melihat anak muda yang suka mainan kamera kayak mas-masnya ini, jiwa saya jadi muncul lagi, mas"
Rumahnya ternyata cukup jauh dan melewati banyak persimpangan, dari pasar loak tadi. Setelah sekitar setengah jam akhirnya kami sampai di kediamannya, Pak Joko menyuguhkan kami segelas kopi panas. Kemudian segera ia memperlihatkan "koleksi" dagangannya.
Sebuah kamera Ricoh GX-1, kamera Yashica yang aku lupa serinya, lalu ada Canonnet, lalu sebuah kamera yang aku lupa merknya, sepasang sarung tinju, beberapa tas kulit, frame kacamata, sebuah bolpoint, dan keris.
"Ini mas, kayu cendana asli, mas"
"Wanginya ndak ilang-ilang ini mas" ujar pak Joko sambil memperlihatkan kerisnya. Entah apakah karena hidungku yang sedang bermasalah, tapi aku tidak mencium wangi apapun saat itu.
Setelah memeriksa semua "koleksi" pak Joko, dan semuanya tidak terawat dengan baik, kami memutuskan untuk tidak membeli apa-apa darinya. Tapi kami telah menjadi teman baik seperti yang pak Joko bilang pada kami.
"Gak jadi beli gak papa mas, Saya menganggap kalian tamu saya. Jadi saya mendapat pahala dari Gusti Allah" begitulah kira-kira katanya.
Jam menunjuk pada pukul setengah 2. kami pun meminta pamit pulang.
Yak, kota kecil ini masih meminta kami untuk ditelusuri. Dan tentu saja kami akan kembali lagi. Mungkin dengan jumlah sangu dan waktu yang lebih banyak.
Sampai jumpa
Sunday, April 8, 2012
Tak ada yang terlalu istimewa malam itu kecuali hujan kata-kata yang membuka kembali kotak-kotak berisi memori yang bernama masa lalu. Malam itu memang tak ada yang begitu istimewa melainkan cahaya lampu dan asap rokok yang menari bersama cerita usang tentang roman-roman picisan negeri para petuah. Ya, malam itu tak ada yang cukup istimewa namun rindu seperti membara bersama riuh pekik raung gaung gitar para pencerita. Bersama nada-nada yang jatuh di ujung mataku yang sayu, malam itu memang tidak terlalu istimewa selain mereka yang bersendawa di atas lolongan para serigala.
Thursday, March 1, 2012
Tuesday, February 28, 2012
Sunday, February 26, 2012
Saturday, January 21, 2012
"Berapa jam dari Siak ke Pekanbaru, Bang?" Aku bertanya kepada seorang lelaki kekar yang berdiri di samping dermaga pelabuhan kecil di sebuah kota kecil bernama Siak.
"Sekitar 2 jam" jawabnya, kemudian ia turun ke dalam speedboat, menuju ke bagian ekor perahu cepat itu lalu memeriksa baling-baling dan segala macam perlengkapan lainnya.
Awan menggelayut di tepi langit yang benar-benar biru hari itu. Selama aku berada di kota ini, aku belum merasakan hujan, dan setiap hari langit benar-benar merias wajahnya dengan baik. Setelah membeli tiket aku segera menaiki speedboat, dan memilih duduk di bagian atas kapal. Jam menunjuk pukul 4 lebih sepuluh menit, kapal ini adalah kapal terakhir yang mengantar penumpang dari Siak menuju Pekanbaru. Sekitar 5 menit kemudian kapal mulai berangkat. Deru suara mesin dan riak air sungai mulai menyatu dengan angin kencang. Dalam perjalanan ini aku lebih memilih untuk diam. Menikmati pemandangan di sepanjang sungai terdalam di Indonesia ini, mengabadikannya untuk teman yang berada jauh di sana.
Subscribe to:
Posts (Atom)

