Thursday, January 12, 2017

Mesty Ariotedjo

“Dari SD aku sering ngerasain di-bully”
“Kadang gak tau alasannya apa, tapi orang-orang itu suka banget nge-bully”
“Dibentak senior gegara nge-highlite rambut warna merah”
“Waktu smp pernah punya berat badan 70Kg dibilang raksasa”
“Trus misal ada satu orang gak suka sama aku, trus temen-temennya ikutan gak suka”

IMG_8359

“Pan, Aku keterima”
“Alhamdulillah”

Suatu hari Ang pernah bercerita padaku tentang impiannya menjadi seorang pramugari. Ketika aku bertanya padanya kenapa, ia lalu bercerita dengan sangat antusias, bagaimana dia nantinya akan berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat menarik, belajar menjadi wanita dewasa dengan menemui berbagai macam karakter manusia. Tuhan sepertinya mendengarkan doa-doa tulus gadis ini. Beberapa bulan lalu, Ang meminta izinku untuk ikut tes pramugari di sebuah maskapai penerbangan internasional.

Friday, December 23, 2016

Boscha 1

“Karena duitnya Boscha ini banyak yah, jadinya digunakan untuk pembangunan Observatorium Boscha ini,” Mas Zen menjelaskan dengan cara yang menyenangkan kepada kami. Akhirnya, setelah beberapa waktu lalu gagal mengunjungi tempat ini karena tutup, Aku, Ella, Popo, Reza, Rashley dan Rumi sekarang sedang berada di kawasan yang memiliki luas 6 hektare ini. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Monday, December 12, 2016

Bioskop Senen

"Eh kapan-kapan cobain nonton di bioskop itu yuk" Suatu hari entah beberapa tahun yang lalu, saat aku dan kawanku melintas perempatan besar pasar senen.
"Males ah, serem tauk"
"Tempat nongkrong gay"

"Wah, lu pernah ke sana?"
"Hmmm...belum sih"

Kabar berbau amis selalu menjadi jawaban ketika aku beranjak penasaran dengan keberadaan bioskop tua yang tidak pernah terlewat perhatianku saat berada di shelter Transjakarta Pasar Senen. Rasa penasaran selalu hinggap, bioskop itu belumlah berhenti beroperasi, pikirku. Hal itu kusimpulkan dari melihat baliho-baliho besar di bagian depan bioskop cukup up date walau hanya menampilkan film-film lokal. Tapi barulah kutahu kalau ternyata film yang terpampang di baliho besar itu bukanlah film yang akan diputar di dalam bioskop tersebut. Karena memang gedung itu sangat strategis, banyak film-film lokal baru menggunakannya untuk promosi mereka.

Kalau diingat-ingat, sampai saat ini sudah beberapa kali aku mencoba menonton di bioskop-bioskop tua. Tapi masih selalu penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Aku jadi teringat sebuah peristiwa masa kecil. Suatu hari, bersama beberapa teman main ke pertokoan Rama Plaza. Biasanya kami bermain Tamiya atau Dingdong di pertokoan itu. Tapi hari itu kami tergoda untuk masuk menonton film di bioskop yang letaknya di belakang pertokoan.

"Girl from Beijing" aku masih ingat sekali judul film hong kong yang kita tonton waktu itu. Film itu bercerita tentang seorang gadis yang mengalami pelecehan seksual oleh pamannya kemudian lari lalu terjun dan menjadi bintang dalam dunia prostitusi. 

Satu hal yang membekas saat itu adalah ketika seorang lelaki tua mendatangi kursi kami kemudian memperlihatkan penisnya. Tentu saja kami lari dan sejak kejadian itu tidak pernah lagi berniat untuk mencoba menonton bahkan sekedar mendekati bioskop itu sekali pun.

Akan tetapi, saat mengambil studi di Jogjakarta, aku kembali mendapatkan pengalaman menonton di bioskop tua di bioskop Permata. Bioskop Permata yang terletak tak jauh dari jembatan Sayidan itu pernah juga digunakan untuk acara-acara diluar pemutaran film seperti konser musik atau menjadi gedung pertemuan. Salah satu yang membuatku senang dengan bioskop itu adalah mural besar yang ada di salah satu sisi tembok yang menghadap ke jalan. Mural itu saat ini sudah pudar, sedang bioskop permata sudah benar-benar berhenti, mungkin sudah terjual.

Monday, October 3, 2016


"Mpan, ke Bogor yuk"
"Sekarang?"
"Iya"
"Ngapain?"
"Nggak tau, kesana aja"
"Yuk deh"

Sampai di depan gerbang Kebun Raya Bogor, pintu baru saja ditutup. Ini baru jam 4 sore, seharusnya kan jam 5 ya, pikirku. Banyak pengunjung yang kecewa. Tapi yasudahlah, kami menimang-nimang sebuah alternatif mau kemana selanjutnya.
Lalu Ang mengajukan satu ide. Matanya tertuju pada satu gang yang cukup besar persis di depan Kebun Raya. Gang Suryakencana, katanya banyak kuliner enak di sana. 

Tak jauh melangkah, sebuah Klenteng mencuri perhatian kami. Tertulis Vihara Dhanagun. Masuk gerbang merah vihara itu mata kami langsung tertuju pada relief yang bercerita tentang kisah Son Go Kong. Kami bergegas masuk, karena vihara ini akan tutup pukul 6 sore.

Friday, February 7, 2014


Sekali lagi, jikalau anda mempunyai planing naik gunung atau ke tempat-tempat yang menyuguhkan keajaiban-keajaiban alam, sebaiknya mencari informasi sebanyak mungkin sebelum berangkat. Dari informasi tersebut anda akan terbantu sekali dalam mengatur perjalanan anda. Aku adalah salah satu yang suka terlalu spontan, tanpa persiapan untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Seperti sekarang, aku berada kaki gunung Ijen dalam waktu yang kupikir tidak tepat. Pukul 7 pagi, terlalu siang untuk berada di sini. 

Salah satu hal yang dicari di Kawah Ijen adalah Blue Fire, Api berwarna biru yang terbentuk dari semburat belerang cair dari dalam kawah Ijen. Fenomena ini cuma bisa dilihat sebelum matahari terbit. Jadi, untuk menyaksikannya kita hari mulai mendaki pada pukul 01.00 dari pos Paltuding. Sebenarnya aku bisa saja menginap jika benar-benar ingin menyaksikan fenomena tersebut, tapi aku urungkan niat tersebut. Aku masih berpikir akan kembali lagi ke tempat ini suatu saat. Setidaknya, mendaki kali ini tidak perlu terburu-buru, karena tak ada yang harus dikejar. Santai saja. 

Oh iya, untuk mencapai ke sini bisa melalui Terminal Bondowoso lalu naik angkutan umum ke arah Kecamatan Sempol berupa kendaraan mini bus (ELF). Dari Sempol, naik ojek sampai Pos Paltuding.

Friday, November 22, 2013


Waktu istirahat kami habis setelah bus berhenti. Jam menunjuk pukul 3 sore, kami serombongan sampai pada sebuah tempat yang dikelilingi oleh bukit-bukit hijau. Air Terjun Madakaripura adalah satu destinasi kami berikutnya. Air Terjun yang hanya terpaut 1 jam dari Kompleks Wisata Gunung Bromo ini terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Masih berhubungan dengan kerajaan Majapahit, dari namanya air terjun ini diyakini merupakan tempat pertapaan terakhir (Kari) Gadjah Mada, yang diyakini pula dari pengasingannya ini tercetus sebuah ide cemerlang mempersatukan nusantara.

Wednesday, November 20, 2013


Apa lagi yang harus diceritakan tentang gunung ini? Gunung yang dijuluki "The Famous Sunrise" ini begitu spektakuler. Sudah banyak tulisan-tulisan para petualang bercerita membahas gunung yang terletak di perbatasan 4 wilayah pemerintahan yaitu Kapupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.

Monday, August 19, 2013


"Si Paul wis mati"
"Si Adit sing nemoke"
"Nemune neng nduwur kuburane simbah putri"

Sehari setelah aku sampai di rumah, aku menemukan kabar ini dari ibuku. Katanya, Paul ditemukan oleh salah satu keponakanku yang sedang bermain di area makam umum di dekat rumah. Dia menemukan jasad Paul tepat di atas makam nenekku. Lalu aku bergegas ke kuburan untuk melihat makam si Paul, namun aku tidak menemukannya. Ternyata Paul sudah meninggal cukup lama, beberapa bulan yang lalu.

Sunday, August 18, 2013


"Mbiyen bapakmu uwis tekan endi-endi le. Bapakmu mbiyen seneng munggah gunung" 
"Wis tau ngerasake suka dukane neng nduwur kono"
("Dulu bapakmu ini udah sampe kemana-mana. Bapakmu dulu suka mendaki gunung")
("Udah pernah ngerasain suka duka di atas gunung")
Seorang teman berseloroh tentang bagaimana dia akan dengan bangga bercerita pada anaknya kelak bahwa pada masa mudanya dia senang mendaki gunung.
"Nek aku, yo mung mingin-mingini wong liyo nek aku munggah. Kan aku moto-moto pemandangan sing apik tenan (Kalau aku, ya cuma bikin iri orang lain. Akukan motret pemandangan yang bagus banget)", kata temanku yang satunya.

Sunday, August 11, 2013


#Day 4

Liburan begini, biasanya pantai di seluruh Jogja pasti akan dipenuhi oleh para wisatawan dari berbagai penjuru. Bahkan pantai Pok Tunggal yang bisa dikatakan merupakan salah satu pantai baru di Jogja sudah ramai dikunjungi. Hal ini untukku pribadi agak menjengkelkan, sebab pantai-pantai yang tadinya bersih, biasanya akan dihiasi oleh sampah-sampah yang "tertinggal" berserakan.

"Kasus" terakhir ketika kami hendak berkemah beberapa bulan lalu di salah satu pantai Wonosari bernama Sadranan. Bayangan kami adalah berkemah disebuah pantai yang sepi. Namun bayangan itu hanya bayangan semata. Kami kemah dengan background panggung dangdut. Ketika esoknya kami pulang pun diwarnai kemacetan yang cukup membuat jengkel.

Tapi, yah aku gak punya hak untuk jengkel juga. Dengan semakin banyak pengunjung yang datang bisa meningkatkan perekonomian daerah sana. Dan mudah-mudahan juga para wisatawan bisa berbuat bijaksana untuk ikut merawat pantai tersebut, setidaknya tidak meninggalkan sampah. Amin.

Friday, August 9, 2013



#Day 2

Sebenarnya bukan suatu hal yang cukup istimewa pagi ini, selain hari ini adalah hari raya umat muslim. Semua berjalan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pukul 6 pagi aku sudah berada di depan pintu dengan sebuah tas berisi kamera, sebungkus roti, sebotol air mineral dan selembar sajadah. Hari ini aku berniat untuk melaksanakan shalat Ied di Alun-Alun Utara tepat di depan Kraton yang nantinya akan lanjut menyaksikan upacara Grebeg Syawal. Untuk pertama kali setelah bertahun tahun tidak menyaksikan upacara tersebut, aku cukup menantikan hari ini.

Wednesday, August 7, 2013


Day #1

"Nan, aku wis tekan jogja. Iki nomerku sing anyar"
"Kabari nek arep lungo-lungo yohh"

Aku mengirimkan pesan singkat kepada Adnan, seorang teman yang hobinya berpetualang menemukan tempat-tempat baru yang menarik untuk dikunjungi. Hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kembali ke kampung halaman setelah sibuk dengan rutinitas ibukota, aku kembali untuk merayakan tradisi orang-orang di negeri ini. Mudik.

Sunday, June 23, 2013



Singapore, 15-18 June 2013
Aku punya teman, sebut saja Cantik. Kenapa begitu? Secara fisik dia memang tergolong memiliki wajah yang setiap kali dia lewat di antara para lelaki, ya minimal mereka akan meleng beberapa waktu kemudian terantuk batu atau jatuh di lubang gorong-gorong. Selain itu, dia orang yang easy going, jadi anak ini cukup mudah mendapatkan teman.

Tiba-tiba saja dia menawariku tiket gratis ke Singapura. Dia bilang aku hanya perlu membawa badan sama baju ganti saja. Semuanya dia yang urus. Dia mungkin sedang ingin jalan-jalan. Cantik anak yang spontan dan tidak kenal namanya perencanaan. Bisa saja tiba-tiba ia berada di satu tempat ke tempat yang nun jauh di mana dalam sekejap. Apa lagi, kalau sedang bosan.

Monday, November 5, 2012

Monday, August 27, 2012

  
"Aku mau ngelukis hari ini" katanya
Hari itu untuk kesekian kalinya aku datang ke rumah perempuan ini. Seorang pelukis muda, seorang perempuan yang selalu membuatku kembali dalam kenangan-kenangan masa kecil, dimana aku tenggelam dan bermain-main dengan cat-cat dan kanvas.



Sunday, August 26, 2012

Thursday, August 23, 2012